Tampilkan postingan dengan label Artikel Kesehatan Liver. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kesehatan Liver. Tampilkan semua postingan

Penderita Hepatitis di RI Terbesar Ketiga di Dunia

Ibu Negara Ani Yuhoyono mengatakan sudah waktunya bagi pemerintah untuk memberi perhatian lebih besar bagi penanggulangan penyakit hepatitis, mengingat Indonesia masuk dalam tiga negara yang penduduknya paling banyak menderita penyakit peradangan hati tersebut.

Ibu Negara mengatakan saat ini terdapat 20 juta orang di Indonesia yang terdeteksi penyakit hepatitis B dan C atau ketiga terbesar setelah China dan India, dan separuh dari jumlah tersebut diperkirakan bisa menjadi kronis.

“Hal itu alarm untuk kita. Tak ada waktu lagi untuk berkompromi dengan penyakit itu,” kata Ibu Negara sewaktu meresmikan The 3 rd China Indonesia Joint Symposium on Hepatobiliary Medicine and Surgery di Hotel Gran Melia Kuningan, Jakarta hari ini.

Ibu Negara juga menunjukkan kekhawatirannya setelah mengetahui data penderita hepatitis di dunia saat ini telah mencapai angka 2 miliar orang, atau sekitar sepertiga dari penduduk dunia yang berjumlah sekitar 6 miliar orang.

Walau hepatitis tidak menyebabkan kematian secara langsung, ujarnya, jika tidak ditangani secara serius dapat mengarah pada kematian. Apalagi fakta menunjukkan hepapatis banyak berjangkit di negara berkembang, termasuk Indonesia yang dikenal dengan penyakit kuning.

Ibu Negara juga mengharapkan agar para dokter di Indonesia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menangani pasien penderita hepatitis, di antaranya bekerja sama dengan para dokter di China yang kini diakui sukses menjalankan sejumlah operasi transplantasi hati.

Di samping itu, ujarnya, diharapkan perlu untuk terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang penyebab penyakit pada masyarakat. Di samping itu mengatasi soal kebutuhan masyarakat akan imunisasi hepatitis yang belum begitu popular saat ini. (mrp)

Sumber: Bisnis Indonesia

Detoksifikasi Bebaskan Hati dari Toksin

Hidup sehat lagi awet muda adalah dambaan tiap insan, Sementara itu, gangguan penyakit tidak selalu disebabkan faktor luar tubuh, tetapi bisa juga dari dalam, Salah satunya akibat racun (toksin) di dalam darah yang ditimbulkan antara lain oleh konsumsi makanan yang tidak sehat. Racun tersebut bisa menimbulkan gangguan kesehatan bila terus menumpuk.

Berbagai cara dilakukan orang untuk mendapatkan kesehatan secara "paripurna". Salah satunya, dengan melakukan detoksifikasi. Sebenarnya, kata Dr. Barki, dari Vivari Healing, Bandung, tubuh manusia mempunyai kekuatan penyembuhan sendiri jika kita menjaganya dengan baik.

Detoksifikasi secara alamiah dilakukan tubuh untuk mengusir racun di dalam tubuh, melalui keringat, tinja, urin, juga pernapasan. Tak hanya mengusir racun dalam tubuh, detoksifikasi juga berguna untuk meningkatkan imunitas dan membuat kulit mulus.

"Bonusnya, penyakit hengkang dari tubuh tanpa perlu ke dokter," kata Dr. Barki.

Kenapa harus detoks?

Lever adalah pusat detoksifikasi di dalam tubuh yang menetralisasi semua racun tubuh. Tanda bila fungsi lever menurun adalah kepala terasa berat, mudah lelah, lapar, mual, kembung, masuk angin, otot-otot terasa pegal, kram, kesemutan, rambut rontok, berat badan naik, serta kadar kolesterol dan asam urat naik.

Tanda-tanda menurunnya fungsi lever itu harus diwaspadai karena akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degeneratif. "Penyakit itu antara lain stroke, jantung koroner, tumor, kanker, gagal ginjal, perlemakan dan pengerasan lever, kencing manis, darah tinggi, dan penuaan dini," papar Dr. Barki.

Detoks merupakan proses pengeluaran racun atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh yang berasal dari ampas makanan yang tidak tercerna dengan baik, zat makanan adiktif, alkohol, udara tercemar, bahkan pikiran dan emosi negatif. Lazimnya ampas tersebut akan dikeluarkan secara teratur setiap hari melalui sistem pembuangan tubuh.

Sayangnya, seringkali proses pembuangan itu tidak optimal, sehingga toksin pun mulai merusak organ-organ vital dan memicu beragam penyakit ringan seperti flu, sampai penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, diabetes, dan jantung koroner.

Seluruh sel dalam tubuh manusia pada dasarnya menghasilkan bioenergi. Saat tingkat energi tinggi, sel tubuh akan berfungsi dengan maksimal. Namun, jika kita tengah sakit atau mengalami stres, secara otomatis tingkat bioenergi dalam tubuh akan menurun secara drastis dan tak mampu mengeluarkan racun dalam tubuh secara efektif.

Tren detoks masa kini

Racun yang secara tak sengaja dikonsumsi sehari-hari dari makanan, air, dan lingkungan, terakumulasi dalam sel-sel tubuh. Pola makan yang buruk dan tak seimbang menambah akumulasi itu. Akibatnya, hati sebagai organ terpenting tak lagi sanggup membersihkan secara tuntas racun dalam tubuh. Tumpukan racun itu menjadi beban dalam tubuh yang kemudian menjadi penyakit, membuat penyerapan gizi tak sempurna dan metabolisme kurang efisien.

Gejala penumpukan racun itu dapat terlihat dari seringnya sakit kepala, bau mulut, berat badan meningkat, sembelit, sariawan, dan kulit tampak kusam. Akibatnya, kita sering sakit ketika kuman atau virus masuk ke dalam tubuh.

Akhir-akhir ini istilah detoksifikasi menjadi solusi penting untuk mengobati dan mencegah penyakit. Istilah detoksifikasi juga dikenal di kalangan pecandu narkoba yang ingin bertobat. Dalam hal ini dokter memberikan tindakan membuang dan menguras racun-racun racun atau zat adiktif yang bersarang di dalam tubuh.

Kata detoks (detox) telah menjadi gaya hidup baru yang semakin mendapat tempat dan diakui oleh banyak orang. Sebuah gaya hidup yang menomorsatukan kesehatan dan kebugaran. Gaya hidup yang mulai memperhatikan apa yang dapat diminum dan dimakan, seperti menghindari sayuran dan daging yang tak sehat karena pestisida dan antibiotika. Demikian pula kapan harus istirahat, menghindari stres dan polusi.

Menjalani proses detoksifikasi, kata Dr. Barki, memudahkan tubuh memperbaiki, membersihkan, dan mengembalikan keseimbangan sistem kekebalan tubuh.

Menurut Prof. Dr. Waluyo Soerjodibroto, Sp.G(K), MSc, Ph.D, ada cara termurah untuk menjaga organ hati bekerja secara optimal dalam membersihkan racun di dalam tubuh, yaitu dengan poly hidup sehat, mulai dari pola makan gizi seimbang, olahraga teratur, serta menghindari rokok dan alkohol.

Saat ini berbagai macam cara detoksifikasi ditawarkan praktisi untuk mengatasi berbagai racun dalam tubuh agar organ hati dapat bekerja secara maksimal. Yang mutakhir adalah dengan mengonsumsi suplemen detoks alami khusus untuk mendetoksifikasi hati, supaya hati dapat berfungsi optimal dalam membuang racun-racun di dalam tubuh. Cara ini dianggap praktis dan mudah untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Ragam Detoksifikasi

Bila memiliki pola hidup sehat, kata Dr. Barki maupun Prof. Walujo Soerjodibroto, proses detoksifikasi terjadi secara alami. Bahwa kemudian ternyata tidak semua orang sadar bagaimana caranya hidup sehat, detoksifikasi perlu dilakukan agar toksin yang menumpuk dapat dibersihkan.

Berikut ragam detoks yang umum dilakukan:

1. PUASA
Detoks cara ini ringan dan efektif. Berpuasa, dijelaskan Dr. Barki, memberi kesempatan kepada organ-organ yang terlibat dalam fungsi detoksifikasi seperti hati, usus besar, ginjal, paru-paru, dan kulit dapat beristirahat. Dengan demikian, sel-sel tubuh leluasa melakukan metabolisme zat-zat di dalam tubuh.

Puasa biasanya dilakukan dengan cara makan selepas magrib hingga sebelum subuh. Bisa juga puasa dilakukan dengan cara tidak mengonsumsi garam dan gula sama sekali (nganyep), atau hanya makan rebusan umbi-umbian (ngrowot), dan lain-lain metode.

2. FOOD DETOX
Detoks cara ini dengan menghindari makanan berlemak, seperti daging merah atau produk olahan susu atau makanan yang terlalu asin dan manis. Kenapa? Dinyatakan Dr. Barki, bahan pangan jenis ini dapat memperberat kerja organ pendetoks.

Biasanya detoks cara ini dilakukan dengan mengonsumsi banyak buah seperti pepaya, nanas, apel, semangka, melon, anggur, tomat, dan wortel, notabene merupakan sumber antioksidan tinggi, yang selain memberi zat gizi, juga berguna membuang racun.
Konsumsi lainnya adalah sayuran seperti brokoli, selada air, kacang kedelai, kacang tanah, dan buncis. Agar optimal, sebaiknya food detox dilakukan hanya menggunakan buah dan sayuran organik yang bebas bahan kimia.

Food detox, menurut Dr. Barki, kadang digunakan sebagai cara menjadi langsing dengan mengurangi berat badan. Kekurangannya, food detox cenderung menjadi sangat rendah kalori, sehingga berat badan turun cukup drastis dalam waktu singkat. Tentu saja ini membawa risiko, yaitu kekurangan nutrisi karena jumlah kalori yang dikurangi terlalu dramatis.

3. COLON HYDROTHERAPY
Upaya pembersihan toksin dalam tubuh bisa dilakukan dengan melakukan terapi cuci usus (colon therapy). Terapi ini, menurut Dr. Sukarliono, telah lama digunakan untuk mereka yang mengalami gangguan pencernaan dan mereka yang ingin langsing. Namun, dalam perjalanannya, terapi cuci usus terbukti mampu meluruhkan toksin dalam tubuh, sehingga mengembangkan fungsi organ tubuh kembali bugar.

Dr. Sukarliono percaya bahwa kesehatan tubuh berawal dari usus besar (colon) yang sehat. Pola makan dan pola hidup tak sehat akan menyisakan kerak yang menempel di dinding usus besar. Selama kerak dalam usus tidak dibersihkan, proses penyerapan toksin dan partikel protein akan berlangsung terus-menerus. Toksin dan partikel protein itulah yang akan masuk ke pembuluh darah dan membebani kerja lever sebagai pusat metabolisme yang bekerja membongkar semua sampah. .

4. VIVARI DETOX
Detoks ini dengan hanya minum cairan berenergi secara intensif, yang diproses dengan teknologi VQS. Prinsipnya, kata Dr. Barki, membantu memulihkan energi organ tubuh yang terlibat dalam detoksifikasi bersama-sama dengan hidrasi optimum di level sel. Kondisi ini memungkinkan cairan energi bekerja, bukan lagi hanya sekadar membersihkan isi usus, tetapi sekaligus mampu mengeluarkan racun sampai ke tingkat sel.

Vivari detox mengeluarkan racun melalui 6 lubang, tergantung di mana proses detoksnya terjadi. Bisa dalam bentuk kotoran mata atau keluar lendir dari hidung atau keluarnya air liur, keringat, dan air seni berlebih, maupun kotoran dan gas.

5. LIVER CLEANSING
Detoks ini adalah program pembersihan hati. Kata Dr. Lucky Kartadinata, hati adalah organ penting yang mempunyai fungsi utama membersihkan racun tubuh. Bila racun tidak disaring dengan bersih oleh lever, racun tersebut bisa merusak sel dan jaringan tubuh.

Liver cleansing adalah sebuah program kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan fungsi kerja hati dan tubuh secara keseluruhan. Manfaatnya, membersihkan parasit, memperkuat fungsi hati, mengurangi perlemakan hati, membantu mengontrol berat badan, membersihkan hati dan kantong empedu dari batu empedu, meningkatkann sistem pencernaan, serta meningkatkan sistem pembuangan racun tubuh.

Program pembersihan ini biasanya dilakukan dengan mengonsumsi sejumlah herbal, ditambah makan kentang dan jus apel.

Sumber: Senior

Kolesterol versus Kalori

Kolesterol dan kalori adalah dua hal yang memiliki fungsi berbeda meski keduanya bisa bersumber dari makanan. Keduanya diperlukan tubuh tapi jika dikonsumsi dalam berlebihan bisa berkontribusi terhadap penyakit kronis.

Secara kebetulan, banyak makanan yang tinggi kolesterol juga tinggi kalori. Hal ini karena makanan kolesterol tinggi cenderung tinggi lemak, dan lemak memiliki kalori paling tinggi.

Tidak semua makanan mengandung kolesterol tapi semua makanan memiliki kalori. Kolesterol hanya ditemukan dalam produk hewan seperti kuning telur, daging merah, jeroan, unggas, kerang, krim dan produk susu.

Sedangkan kalori dimiliki hampir semua makanan. Meski menurut Departemen Pertanian AS (USDA), makanan yang sehat adalah yang secara alami mengandung rendah kalori dan dikemas dengan nutrisi penting.

Makanan rendah kalori contohnya seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, produk susu rendah lemak, serta berprotein seperti ikan, kacang, kedelai dan dada ayam tanpa kulit.

Kolesterol

Kolesterol adalah zat lemak yang ditemukan dalam darah dan sel-sel tubuh dan merupakan nutrisi penting yang diperlukan tubuh manusia untuk menjalankan fungsi utamanya.

Kolesterol disusun dalam tubuh oleh hati dan kemudian dikirim ke berbagai bagian tubuh oleh darah. Menurut American Heart Association (AHA), kolesterol digunakan untuk membentuk membran sel dan hormon.

Dua jenis utama dari kolesterol adalah low-density lipoprotein (LDL) dan high-density lipoprotein (HDL). LDL tinggi dan HDL rendah merupakan faktor risiko penyakit jantung.

LDL seharusnya di bawah 160-190 mg/dL bagi kebanyakan orang dan kurang dari 100-130 mg/dL untuk penderita diabetes dan orang yang berisiko penyakit jantung. Sedangkan HDL sebaiknya di atas 40-50 mg/dL untuk kesehatan yang baik.

LDL dapat diturunkan dengan membatasi makanan tinggi kolesterol dan HDL dapat ditingkatkan dengan memperbanyak latihan olahraga.

Dilansir dari Livestong, Senin (12/7/2010), Federal dietary guidelines merekomendasikan untuk membatasi kolesterol kurang dari 300 mg per hari. Tapi orang dengan penyakit jantung harus membatasi asupan kolesterol kurang dari 200 mg per hari.

Kalori

Kalori merupakan jumlah energi yang tersimpan dalam makanan atau satuan untuk menghitung energi. Dengan kata lain, makanan yang tinggi kalori akan menghasilkan lebih banyak energi.

Asal tahu saja, lemak memiliki jumlah kalori paling banyak ketimbang karbohidrat dan protein. Makan terlalu sedikit kalori dapat menyebabkan kekurangan gizi, tapi makan kalori berlebihan dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan dan obesitas (kegemukan).

Obesitas merupakan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, kanker, liver, penyakit ginjal, stroke dan kondisi kronis lainnya. Maka jumlah kalori yang dikonsumsi sehari harus seimbang dengan jumlah kalori yang dihabiskan melalui kegiatan sehari-hari dan olahraga.

Menurut AHA, rata-rata orang dewasa membutuhkan sekitar 2.000 kalori per hari, tetapi angka tersebut berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas dan tujuan kesehatan.

Secara umum, laki-laki, orang yang aktif secara fisik dan dewasa muda membutuhkan lebih banyak kalori ketimbang yang lainnya. Orang yang kegemukan perlu mengurangi asupan kalori dan meningkatkan tingkat aktivitas fisik untuk mendukung penurunan berat badan.

Cara mengurangi kolesterol dan kalori

Orang yang kegemukan harus mengurangi asupan kolesterol dan kalori. Makan makanan nabati seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian, serta membatasi daging dan produk susu tinggi lemak akan membantu mengurangi asupan kolesterol dan kalori.

Asupan kalori juga dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah lemak, gula dan alkohol, yaitu dengan membatasi makanan goreng, makanan cepat saji, soda, makanan penutup (dessert) yang manis, makanan ringan, mentega, krim dan permen.

(mer/ir)

Sumber: detikcom

Lemak Membuat Hati Meradang

Gangguan di hati ini tidak setenar penyakit hepatitis A, B, dan C. Kemunculannya perlahan dan tanpa gejala. Biasanya disebabkan oleh asupan lemak atau konsumsi alkohol berlebihan, Jika tak ditangani secara tepat, bisa berlanjut menjadi sirosis.

Hati kita ini merupakan organ tubuh yang paling besar dan berat pula tugasnya. Setiap saat ia harus menyaring racun-racun yang masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan, zat yang dihirup atau diserap permukaan kulit kita. Selain melakukan detoksifikasi, hati juga berfungsi membentuk faktor pembekuan darah, menyediakan enzim untuk kebutuhan metabolisme, dan fungsi hormonal.

Supaya racun tak menumpuk di tubuh, tentu saja hati harus dipelihara sehingga bisa bekerja dengan optimal. "Nah, dalam menjaga kesehatan hati ini, yang penting dilakukan selain mencegah terjadinya hepatitis adalah mencegah perlemakan hati atau fatty liver," ungkap Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, konsultan gastro-enterolog hepatologi dari FKUI/RSCM.

Akumulasi Trigliserida

Jika hepatitis A, B, C disebabkan virus, gangguan perlemakan hati lebih diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Konsumsi makanan berlemak dan berkarbohidrat tinggi yang terlalu sering bisa menimbulkan perlemakan hati. "Gaya hidup itu berakibat pada terjadinya timbunan lemak pada sel-sel hati," ujarnya.

Kebiasaan mengonsumsi alkohol, kondisi obesitas atau kelebihan berat badan juga bisa memicu perlemakan hati. Perlemakan hati sebetulnya merupakan akumulasi trigliserida dan jenis lemak lain di dalam sel hati. Apabila perlemakan hati ini disertai radang atau bahkan terjadi kematian sel hati, dalam istilah medis disebut NASH (non-alcoholic steato-hepatitis).

Perlemakan hati yang tidak disertai radang umumnya lebih ringan dibanding NASH. Sebaliknya NASH dapat berkembang pada terbentuknya jaringan parut (fibrosis) pada hati. Dan ini bisa berakhir pada sirosis atau pengerasan hati, bahkan kanker hati. Perlemakan hati menduduki tiga peringkat utama penyebab sirosis. Bila hati sudah mengeras, tentu tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal.

Perlemakan hati biasanya tanpa gejala, dan orang baru tahu setelah menjalani tes kesehatan. Kerusakan yang diakibatkannya dan berjalan tahunan atau bahkan puluhan tahun juga bisa tanpa tanda-tanda. Ketika kondisi memburuk, pasien bisa merasa letih, berat badan merosot, tidak nyaman di perut, lemah, dan pening.

Hidup Sehat

Orang yang kegemukan atau tinggi kadar trigliserida, memiliki kecenderungan tinggi untuk mengalami perlemakan hati. Sebuah studi menunjukkan, 20-40 persen orang yang mengalami kelebihan berat badan akan mengalami NASH. Juga terjadi pada diabetesi (pengidap diabetes) yang tidak tekun mengontrol penyakitnya pada orang yang bobot tubuhnya melorot drastis atau mengalami malanutrisi, dan pada wanita yang menggunakan hormon estrogen. Namun, tanpa kondisi tersebut pun kita bisa kena.

Dokter bisa memperkirakan adanya perlemakan hati melalui tes darah atau jika tampak adanya pembesaran hati. Pada pemeriksaan laboratorium misalnya menunjukkan kelainan fungsi hati (SG07 dan SGPT). Untuk memastikannya mungkin dokter akan menyarankan pemeriksaan darah lebih lanjut, ultrasound, CT-scan, atau MRI. Untuk makin memastikan apakah itu NASH, harus dilakukan pengambilan jaringan hati melalui biopsi.

Pengobatan terbaik bagi kondisi ini adalah meninggalkan hal-hal yang bisa menjadi penyebab. Faktanya memang pada orang kegemukan, perlemakan di hati akan berkurang ketika berat badannya berkurang. Pada pengguna alkohol, kadar lemak di hati berkurang jika ia berhenti "minum". Kontrol diabetes secara baik melalui pengaturan makan atau insulin juga akan mengurangi jumlah lemak di hati.

Seperti dipesankan Dr. Ari, yang penting dilakukan adalah mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, sesegera mungkin. Selain menghindari makanan tinggi lemak dan kolesterol, penderita yang kegemukan harus menurunkan berat badan. Jangan lupa pula untuk berolahraga teratur dan cukup istirahat yang berkualitas.

Sumber: Senior

Jagalah Hati, Jangan Diracuni

Hati yang sehat bisa menyaring racun dan melakukan proses detoksifikasi secara optimal. Bila hati sakit, otomatis racun bakal tertumpuk dan tubuh rentan terkena penyakit serius, salah satunya sirosis. Apa yang harus dilakukan agar kita tak sakit hati?

Hati atau lever merupakan organ paling besar dan paling berat yang ada di dalam tubuh. Beratnya sekitar 3 pound atau 1,3 kg. Letaknya berada di bagian atas sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk.

Organ hati yang cukup besar ini setara dengan fungsinya yang cukup berat. Setidaknya lebih dari 500 pekerjaan dilakukan oleh lever. Hati menjadi tempat menyaring segala sesuatu yang dikonsumsi maupun dihirup manusia, termasuk yang diserap dari permukaan kulit.

Dalam situs Hepatitis Foundation International disebutkan, lever bertindak sebagai mesin tubuh, dapur, penyaring, pengolah makanan, pembuangan sampah, dan malaikat pelindung. Masalahnya, hati merupakan teman yang pendiam. Manakala ada sesuatu yang salah, ia tidak mengeluh hingga terjadi kerusakan lebih jauh.

Perlu kepedulian kita supaya hati terjaga, tetap sehat dan bebas dari penyakit. Untuk memperoleh kondisi itu, kita harus menganut diet sehat, olahraga teratur, mendapat udara bersih, dan menghindari hal-hal yang dapat merusak hati.

Kerja Berat
Yang menyedihkan, umumnya kita hanya memiliki sedikit pemahaman tentang fungsi hati yang sedemikian rumit, vital, dan bekerja tiada henti. Sebelum bayi lahir, hatinya berperan sebagai organ utama dalam pembentukan darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati adalah menyaring dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup, dan diserap melalui kulit. Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal, mengubah zat gizi makanan menjadi otot, energi, hormon, faktor pembekuan darah, dan kekebalan tubuh.

Hati juga menyimpan beberapa vitamin, mineral (termasuk zat besi), dan gula, mengatur penyimpanan lemak dan mengontrol produksi serta ekskresi kolesterol. Empedu yang dihasilkan oleh sel hati membantu mencerna makanan dan menyerap zat gizi penting. Juga menetralkan dan menghancurkan substansi beracun serta memetabolisme alkohol, membantu menghambat infeksi, dan mengeluarkan bakteri dari aliran darah. Tampak jelas, hati bukan hanya teman yang pendiam, tetapi juga sahabat baik.

Tugas hati memang sangat berat dan luas. Dikatakan oleh Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, fungsi hati meliputi enzimatik, hormonal, dan darah. "Hati menyediakan enzim yang diperlukan untuk metabolisme, melakukan detoksifikasi, membentuk faktor pembekuan darah, dan beberapa hormon," tuturnya.

Hati juga mendetoksifikasi dengan menetralkan racun dari obat-obatan, meski tidak semua obat berhasil didetoksifikasi hati. Bila tidak berhasil, bisa menimbulkan gangguan fungsi hati. Di satu sisi, bila terjadi gangguan dan membuat sebagian organ hati mesti dibuang, organ sisanya masih dapat berfungsi.

Untuk itulah, kesehatan organ hati mesti dijaga. Dijelaskan oleh konsultan gastro-enterolog hepatologi dari FKUI/RSCM itu, tindakan menjaga kesehatan hati dilihat dari dua hal, yaitu mencegah terjadinya hepatitis dan perlemakan hati (fatty liver).

Awas Gorengan
Upaya pencegahan hepatitis yang disebabkan oleh virus, seperti pada hepatitis B, dilakukan dengan vaksinasi. Hepatitis A tidak perlu divaksinasi karena biasanya hanya bersifat akut dan tidak kronis. Kecuali bila ada wabah hepatitis A, vaksinasi bisa dilakukan.

Lain halnya dengan hepatitis B. Tindakan perlindungan perlu dilakukan. Contohnya, jika pasangan menderita hepatitis B, harus ada perlindungan supaya tidak tertular. Pemeriksaan status hepatitis juga perlu dilakukan pada anggota keluarga. Jika belum terinfeksi, vaksinasi hepatitis B bisa diberikan. Selain itu, tindakan pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah tidak menggunakan alat yang berpotensi menularkan virus tersebut secara bersama-sama, misalnya sikat gigi dan pisau cukur.

Untuk masalah perlemakan hati, pola hiduplah yang mesti diubah. Fatty liver atau perlemakan hati, menurut dokter lulusan FKUI ini, terjadi akibat gaya hidup. "Sering mengonsumsi makanan berlemak atau gorengan dapat menimbulkan fatty liver," ujarnya. Akibatnya sel-sel di dalam hati akan tertimbun lemak dan dapat menambah komplikasi pada hati.

Konsumsi alkohol secara berlebihan pun dapat menimbulkan perlemakan hati. Begitu juga dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan. Dr. Ari menyarankan agar segera mengubah gaya hidup yang lebih menyehatkan. Dengan menghindari makanan penuh lemak dan kolesterol, menurunkan berat badan, berolahraga secara teratur, dan istirahat cukup, hati kita akan tetap sehat.


Sumber: Gaya Hidup Sehat

Sumber : http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0703/24/151054.htm

Kenali Gangguan Hati Melalui Warna Urin

Salah satu organ vital dalam tubuh manusia adalah hati (liver). Dalam organ itu, terjadi proses-proses penting, yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalam tubuh.

Jika terdapat kerusakan pada hati, otomatis akan mengganggu fungsi tubuh seseorang. Salah satu kerusakan pada hati yang dikenal adalah kolestasis.

Kolestasis terjadi akibat kegagalan hati memproduksi dan pengeluaran empedu. Seseorang yang menderita kolestasis mengalami kesulitan dalam penyerapan lemak dan vitamin A, D, E, K oleh usus. Selain itu kolestasis juga menyebakan adanya penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol di hati.

Gangguan aliran empedu bisa terjadi di sepanjang jalur antara sel-sel hati dan usus dua belas jari. Meskipun empedu tidak mengalir, tetapi hati terus mengeluarkan bilirubin, yaitu komponen empedu yang berwarna jingga. Bilirubin kemudian diendapkan di kulit dan dibuang ke air kemih, kejadian it menyebabkan sakit kuning (jaundice).

Untuk tujuan diagnosis dan pengobatan, penyebab kolestasis dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, gangguan yang berasal dari hati, seperti hepatitis, penyakit hati alkoholik, akibat obat-obatan dan perubahan hormon selama kehamilan.

Kemudian, gangguan berasal dari luar hati, seperti batu di saluran empedu, penyempitan saluran empedu, kanker saluran empedu, kanker pankreas dan peradangan penkreas.

Gejala gangguan hati dapat dilihat dari bilirubin yang berlebihan di dalam kulit dan air kemih yang menyebabkan warna air kemih lebih gelap. Selain itu, perubahan dapat dilihat dari warna tinja.

Akibat adanya ganguan aliran empedu sehingga bilirubin tidak mengalir ke usus dan menyebabkan tinja tampak pucat. Tinja juga bisa mengandung banyak terlalu banyak lemak, karena di dalam usus tidak terdapat empedu untuk membantu proses pencernaan lemak dalam makanan.

Berkurangnya empedu dalam usus, juga menyebabkan berkurangnya penyerapan kalsium dan vitamin D. Jika kolestasis menetap, kekurangan kalsium dan vitamin D akan menyebabkan pengeroposan tulang sehingga penderita kolestasis merasakan nyeri di tulang hingga bisa menyebabkan patah tulang.

Selain itu, terjadi juga gangguan penyerapan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembekuan darah, sehingga penderita cenderung mudah mengalami pendarahan.

Gejala lainnya tergantung dari penyebab kolestasis, bisa berupa sakit perut, hilangnya nafsu makan, muntah atau demam.

Penggobatan paling rasional untuk kolestasis adalah perbaikan aliran empedu ke dalam usus. perbaikan aliran empedu secara medis dapat dengan pemberian pemberian fenobarbital dan kolestiramin, ursodioxy cholic acid (UDCA).

Penyumbatan di luar hati biasanya dapat diobati dengan pembedahan. Sementara itu, jika penyumbatan terjadi di dalam hati bisa diobati dengan berbagai cara, tergantung dari penyebabnya.

Jika penyebabnya adalah obat, maka pemakaian obat dihentikan dan jika penyebabnya adalah hepatitis, Biasanya kolestasis dan sakit kuning akan menghilang sejalan dengan membaiknya penyakit. (republika.co.id-pediatrik.com/medicastore.com/cr1/ri)

Mengenal Gangguan Pada Hati

Hati (liver) merupakan organ terbesar dalam tubuh manusis. Di dalam hati terjadi proses-proses penting bagi kehidupan kita yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalm tubuh kita. Sehinga dapat dibayangkan akibat yang akan timbul apabila tejadi kerusakan pada hati.

Beberapa Penyakit Hati Antara Lain

1. Penyakit hati karena infeksi
misalnya hepatitis virus) yaitu ditularkan melalui makanan & minuman yang tekontaminasi, suntikan, tato, tusukan jarum yang terkontaminasi, kegiatn seksual, dll.

2. Penyakit hati karena racun (misalnya karena alkohol atau obat tertentu)Alkohol bersifat toksik tehadap hati. Adanya penimbunan obat dalam hati (seperti acetaminophen) maupun gangguan pada metabolisme obat dapat menyebabkan penyakit hati.

3. Genetika atau keturunan (misalnya hemochromatosis)

4. Gangguan imun (misalnya hepatitis autoimun)
Penyakit autoimun merupakan penyakit yang ditimbulkan karena adanya perlawanan terhadap jaringan tubuh sendiri. Pada hepatitis autoimun umunya yang dilawan adalah sel-sel hati, sehingga terjadi peradangan yang kronis.

5. Kanker (misalnya Hepatocellular Carcinoma)
Kanker hati dapat disebabkan oleh senyawa karsinogenik diantaranya aflatoxin, polyvinyl chloride (bahan pembuat plastik),virus, dll.
Aplatoxin merupakan racun yang diproduksi oleh Aspergillus flavus dan dapat mengkontaminasi makanan selama penyim pangan, seperti kacang-kacangan, padi & singkong terutama pada daerah tropis. Hepatitis B dana C maupun sirosis hati dapat berkembang menjadi kanker hati.

Bentuk perhatian pada HATI dapat kita lakukan dengan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan peyakit hati.

Beberapa penyakit hati yang umum terjadi dan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi.

Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan pada sel-sel hati. Virus merupakan penyebab hepatitis yang paling sering,terutama virus hepatitis A,B,C,D dan E. Pada umumnya penderita hepatitis A & E dapat sembuh, sebaliknya B & C dapat menjadi kronis. Virus hepatits D hanya dapat menyerang penderita yang telah terinfeksi virus hepatitis B dan dapat memperparah keadaan penderita.

Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis hepatitis karena penderita hepatitis sering tidak bergejala atau tidak gejala tidak khas.

Pemeriksaan untuk hepatitis Akut :
- Enzim GOT, GPT
- Penanda hepatitis A (Anti Hav IgM)
- Penanda hepatitis B (HGsAg, Anti HBC IgM)
- Penanda hepatitis C (Anti HCV, HCV RNA)
- Penanda hepatitis E (Anti HEV IgM)

Pemeriksaan untuk hepatitis kronis :
- Enzim GOT,GPT
- Penanda hepatitis B (HBsAg,HBe, Anti HBc, Anti HBe, HBV DNA)
- Penanda hepatis C (Anti HCV,HCV RNA)

Penanda imunitas :
- Anti HAV
- Anti HBs

Sirosis Hati
Sirosis hati adalah penyakit yang sudah lanjut dimana fungsi hati sudah sangat terganggu akibat banyaknya jaringan ikat di dalam hati. Sirosis hati dapat terjadi karena virus Hepatitis B dan C yang berkelanjutan, karena alkohol, salah gizi, atau karena penyakit lain yang menyebabkan sumbatan saluran empedu. Sirosis tidak dapat disembuhkan, pengobatan dilakukan untuk mengobati komplikasi yang terjadi (seperti muntah dan berak darah, aistes/perut membesar, mata kuning serta koma hepatikum).
Pemeriksaan unuk mendeteksi sirosis hati : Enzim GOT GPT (rasio GOT/GPT >1), waktu Protrombin, Protein Elektroforesis.

Kanker Hati
Kanker hati tejadi apabila sel kanker berkembang pada jaringan hati. Kanker hati yang banyak terjadi adalah Hepatocellular carcinoma (HCC). HCC merupakan komplikasi akhir yang serius dari hepatitiskronis, terutama sirosis yang terjadi karena virus hepatitis B,C dan hemochromatosis.
Pemeriksaan untuk mendeteksi kanker hati : AFP, PIVKA II

Perlemakan Hati
Perlemakan hati terjadi bila penimbunan lemak melebihi 5% dari berat hati atau mengenai lebih dari separuh jaringan sel hati. Perlemakan hati sering berpotensi menjadi penyebab kerusakan hati dan sirosis hati. Kelainan ini dapat timbul karena mengkonsumsi berlebih disebut ASH (Alcoholic Steatohepatitis), maupun bukan karena Steatohepatitis).
Pemeriksaan pada perlemakan hati :
Enzim GOT, GPT, Fosfatase Alkali.

Kolestasis dan Jaundice
Kolestasis merupakan keadaan akibat kegagalan produksi dan/atau pengeluaran empedu. Lamanya menderita kolestasis dapat menyebabkan gagalnya penyerapan lemak dan vitamin A,D,E,K oleh usus, juga adanya penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol di hati.
Adanya kelebihan bilirubin dalm sirkulasi darah dn penumpukan pigmen empedu pada kulit, membran mukosa dan bola mata disebut jaundice. Pada keadaan ini kulit penderita telihat kuning, warna urin menjadi lebih gelap, sedangkan faeces lebih terang.
Pemeriksaan unuk kolestasisi dan jaundice:
Fosfatase Alkali, Gamma GT, Bilirubin Total, Bilirubin Direk.

Hemochromatosis
Hemochromatosis merupakan kelainan metabolisme besi yang ditandai dengan adanya pengendapan besi secara berlebihan di dalam jaringan. Penyakit ini bersifat genetik/keturunan.
Pemeriksaan laboratorium untuk hemochromatosis :
Transferin, Ferritin


Tips Bagi penderita penyakit hati :
1. Diet seimbang
Jumlah kalori yang dibutuhkan sisesuaikan dengan tinggi badan, berat badan, dan aktivitas. pada keadaan tertentu diperlukan diet rendah kalori.
2. Banyak makan sayur dan buah serta melakukan aktivitas sesuai kemampuan untuk mencegah sembelit.
3. Menjalankan pola hidup yang teratur.
4. Konsultasi dengan dokter anda.


Tips mencegah Hepatitis
1. Senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
2. Menghindari penularan melalui makanan & minuman yang terkontaminasi,suntikan, tato, tusukan jarum yang terkontaminasi, kegiatan seksual, dll.
3. Bila perlu menggunakan jarum yang disposable/sekali pakai
4. Pemeriksaan darah donor terhadap hepatitis virus.
5. Program vaksinasi hepatitis B

(sumber : infeksi.com)

Hepatitis B Lebih Infeksius dari HIV


MASYARAKAT selama ini begitu akrab dengan istilah HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang dikenal sangat berbahaya karena menimbulkan kematian bagi pengidapnya.  Namun, tak banyak orang tahu bahwa selain HIV, ada virus yang tak kalah berbahaya dan bahkan jauh lebih infeksi, yakni virus Hepatitis B.   

Seperti diungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo SpPD-KGEH,  virus hepatitis B adalah virus yang patut diwaspadai karena 100 kali  lebih infeksi ketimbang HIV dan 10 kali lebih mudah menginfeksi dari hepatitis C.  "Di dunia,  jumlah pengidap hepatitis B kronik diperkirakan sekitar 250 juta dan penderita hepatitis C sekitar 150 juta. Sedangkan penderita HIV tidak sampai separuhnya atau kurang lebih sekitar 100 juta orang," kata dr Unggul di Jakarta, Selasa, (17/6).

Ia menambahkan, virus hepatitis C sebenarnya tak kalah menakutkan dari HIV mengingat masalah yang ditimbulkan virus ini jauh lebih besar. Namun, karena gaung HIV yang lebih besar, kesadaran masyarakat akan ancaman virus ini masih rendah. "Ini tidak lepas dari fakta bahwa berita-berita HIV sering di-blow-up oleh media massa ketimbang hepatitis B atau hepatitis C," ungkapnya.

Dari sisi ancaman bagi kesehatan, dr Unggul menjelaskan, HIV dan hepatitis B  tidak jauh berbeda.  Penyakit akibat virus HIV dan hepatitis B adalah dua jenis yang hingga saat ini belum bisa disembuhkan secara total. 

"Bila seseorang terkena penyakit ini, biasanya harus meminum obat seumur hidup untuk mengatasinya, sedangkan sebagian besar pasien hepatitis C sudah bisa disembuhkan secara total dengan pengobatan tertentu," ujarnya.  

Selain itu,  hal yang patut diwaspadai dari hepatitis B adalah penyakit ini merupakan penyebab utama terjadinya kanker hati bersama dengan hepatitis C.  "Sekitar 90 persen pasien penderita kanker hati adalah juga penderita hepatitis B atau C," ungkapnya.

Di Indonesia, lanjut dr Unggul, prevalensi penularan hepatitis B termasuk tertinggi di dunia bersama negera-negara Asia Pasifik lainnya. "Prevalensi infeksi hepatitis kronik di Indonesia rata-rata mencapai 5-10 persen dari total jumlah penduduk," ujarnya.( kompas,Selasa, 17 Juni 2008)

Hepatitis B Bisa Bunuh Anda Diam-diam

PENYAKIT hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun.

"Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi," ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)  dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6).  

Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.

Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. "Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning," papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .

Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau  kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).

"Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif  akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya," jelas dr Unggul.

Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan.  Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi.  Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine.   Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi  interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi. (kompas, Selasa, 17 Juni 2008)

Cegah Hepatitis B Kronik Sejak Bayi

PEMBERIAN vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya.  Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B.

Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo Sp.PD-KGEH,  pemberian vaksin  hepatitis B bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal. Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti si bayi dapat menderita hepatitis kronik.

"Dari pengidap hepatitis kronik yang ada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi saat masih bayi.  Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita," ungkap dr Unggul di Jakarta, Selasa (17/6) kemarin.

Ia menjelaskan, infeksi sangat mungkin terjadi karena saat melahirkan jalan lahir ibu terluka dan berdarah sehingga mempermudah kontaminasi darah terhadap kulit bayi yang rentan gesekan persalinan. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat ibu menyusui, di mana luka pada puting ibu menjadi jalan mudah masuknya virus.

"Penularan virus hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu, tapi bisa terjadi saat persalinan atau juga ketika menyusui karena terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dan mulut bayi," terangnya.

Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan ibu yang berisiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan.

"Yang perlu ditekankan, untuk ibu hamil yang positif mengidap virus, selain vaksinasi aktif, sang bayi juga wajib mendapatkan imunisasi pasif dengan pemberian serum.  Dengan pemberian vaksinasi pasif (imunoglobulin) maka tubuh bayi sudah langsung mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B dari ibunya saat melahirkan," ujarnya.

Unggul mengingatkan pula pentingnya pencegahan hepatitis B sejak dini karena penyakit ini tidak memberikan keluhan dan gejala.  Keadaan ini jelas membahayakan karena anak-anak bisa terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya mengandung virus hepatitis B yang akan berjalan progresif menahun dan menjadi kronis ketika mereka dewasa. "Bila sudah kronis, baru akan memberikan gejala, antara lain lemah, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tulang, kulit badan dan mata kuning, serta perubahan warna urine yang mencolok," tuturnya. (Kompas, Rabu, 18 Juni 2008)

Banyak Orang Tak Sadar Menderita Hepatitis C

Sekitar 7 juta orang Indonesia diduga mengidap hepatitis C. Sayang, 90 persen pengidap ini tak sadar kalau terinfeksi sampai muncul gejalanya beberapa tahun kemudian.

Demikian disampaikan Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Unggul Budihusodo, di Jakarta, Jumat (3/4).

Karena itu, menurut Unggul, penanganan hepatitis menjadi langkah mendesak yang tidak boleh diabaikan. Peningkatan kesadaran masyarakat dan akses terhadap terapi merupakan dua hal mendasar yang sangat penting untuk diperhatikan.

"Indonesia sekarang harus bekerja keras untuk memperluas jangkauan pencegahan melalui usaha edukasi dan memperbaiki akses untuk terapi bagi penderita hepatitis C," jelas Unggul.

Terobosan baru dalam penatalaksanaan hepatitis C saat ini telah meningkatkan kesempatan pasien untuk sembuh. Data menyebutkan, 60 persen pasien yang menjalani terapi mengalami kesembuhan, bahkan untuk genotipe tertentu tingkat keberhasilannya lebih tinggi lagi.

"Indonesia adalah yang pertama dan satu-satunya negara ASEAN yang memiliki jaringan surveilans nasional untuk virus hepatitis C," ujarnya.(kompas, Jumat, 3 April 2009 )

7 Juta Penduduk Indonesia Terinfeksi Hepatitis C

Jumlah penduduk Indonesia yang terkena virus hepatitis C mencapai 6-7 juta orang yang tersebar di 21 provinsi. Mayoritas penderita adalah laki-laki dalam usia produktif.

Demikian menurut data yang dipublikasikan Pendataan Hepatitis C Nasional yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan PT Roche Indonesia. 

Infeksi virus hepatitis C merupakan satu dari 10 penyebab kematian terbesar. Dalam jangka panjang, infeksi virus ini bisa berlanjut menjadi sirosis dan berakhir sebagai kanker hati.

Kenyataan di lapangan menunjukkan sebaran penularan dan besaran jumlah penderita infeksi virus hepatitis C belum diketahui secara pasti. Data yang dihimpun dalam Progam Pendataan Hepatitis C pun belum menunjukkan prevalensi sesungguhnya.

"Data ini memang belum menggambarkan permasalah dasar karena hanya mengukur positif rate berdasarkan pemeriksaan laboratorium," kata dr.Andi Muhadir, MPH, Direktorat Sepim Kesma, Departemen Kesehatan.

Program pendataan yang berjalan sejak tahun 2007 ini melibatkan 21 provinsi yang terdiri dari 123 unit pelapor, yakni rumah sakit swasta dan pemerintah yang dipilih, laboratorium, serta unit transfusi darah PMI. 

Setiap unit pelapor wajib mengumpulkan data setiap kali ada pasien yang dinyatakan positif terinfeksi hepatitis C berdasarkan pemeriksaan tes anti HCV. Seluruh pelaporan berbasis internet sehingga data lebih akurat dan dapat langsung terintregasi ke dalam data nasional.

"Yang terpenting hanya jumlah datanya tapi bagaimana menyikapi data tersebut lewat tindakan bersifat preventif," kata Andi.

Senada dengan Andi, Dr. Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH, ketua perhimpunan peneliti hati Indonesia, mengatakan pencegahan memang cara terbaik untuk menanggulangi hepatitis C. Terlebih penyakit ini tergolong dalam silent disease yang seringkali tanpa gejala.

"Kebanyakan pasien tak sadar dalam dirinya sudah ada virus hepatitis C. Mereka baru berobat setelah penyakitnya menahun dan sudah menjadi kronis," ujarnya. Apalagi hepatitis C yang kronik dan sudah menjadi sirosis umumnya sulit disembuhkan dan banyak menyebabkan kematian.(kompas,  Selasa, 29 September 2009 )

Pencegahan Hepatitis B pada Bayi



Saya seorang perawat perempuan yang sudah tiga tahun ini bekerja di salah satu rumah sakit. Rumah sakit kami bulan lalu mengadakan vaksinasi Hepatitis B untuk tenaga kesehatan, termasuk perawat. Saya mengikuti program tersebut, tetapi pada waktu skrining diketahui HBsAg saya positif dan anti-HBs saya negatif. Saya tak dapat mengikuti program vaksinasi tersebut karena sudah tertular Hepatitis B.

Pemeriksaan lebih lanjut pada dokter spesialis penyakit dalam menyimpulkan bahwa saya merupakan karier Hepatitis B. Kata dokter, dalam tubuh saya terdapat virus Hepatitis B, tetapi virus tersebut tak menimbulkan penyakit pada tubuh saya, tetapi saya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.

Saya dianjurkan tidak menjadi donor darah. Persoalan yang saya hadapi adalah tahun depan saya merencanakan untuk menikah. Apa yang harus kami lakukan agar suami saya tak tertular Hepatitis B. Bagaimana dengan anak saya nanti karena saya mengetahui Hepatitis B dapat menular dari ibu hamil ke bayinya.

Dapatkah dilakukan pencegahan kepada bayi saya nanti agar tak tertular Hepatitis B? Benarkah bayi yang tertular Hepatitis B dari ibunya cenderung akan menjadi Hepatitis kronis? Bagaimana dengan perkembangan terapi Hepatitis B, dapatkah obat herbal menyembuhkan Hepatitis B? Terima kasih atas penjelasan dokter. M di J

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar setiap petugas kesehatan mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B. Dalam pekerjaannya sehari-hari, petugas kesehatan berisiko jauh lebih tinggi tertular Hepatitis B dibandingkan bukan petugas kesehatan. Ini dapat dimengerti karena petugas kesehatan sering kali terpajan cairan tubuh penderita.

Kita mengetahui bahwa penularan Hepatitis B terjadi melalui cairan tubuh. Penularan tersebut dapat terjadi vertikal, yaitu dari ibu hamil ke bayinya dan horizontal dari seorang yang mengidap Hepatitis B ke orang lain. Penularan horizontal Hepatitis B melalui transfusi darah, misalnya, dapat terjadi sehingga pemerintah menerapkan semua darah yang akan ditransfusikan harus diskrining Hepatitis B terlebih dahulu. Dengan maraknya kasus HIV di Indonesia, sejak tahun 1992 darah yang akan ditransfusikan, selain diskrining Hepatitis B, juga diskrining untuk HIV.

Hepatitis virus merupakan masalah kesehatan yang penting di dunia. Jumlah pengidap Hepatitis B di dunia diperkirakan sekitar 400 juta orang. Itulah sebabnya mulai tahun ini WHO menetapkan Hepatitis Day pada bulan Juli untuk mengingatkan bahwa Hepatitis virus merupakan salah satu masalah kesehatan yang harus diatasi bersama.

Di Indonesia kekerapan Hepatitis B juga tinggi berkisar 5 persen-8 persen. Upaya untuk mencegah penularan Hepatitis B adalah dengan menerapkan hidup bersih serta menjalani vaksinasi.

Hasil vaksinasi di Pulau Lombok pada tahun 1987 berhasil menurunkan kekerapan Hepatitis B pada anak di bawah usia empat tahun dari 6,2% menjadi 1,4%. Berdasarkan pengalaman manfaat vaksinasi Hepatitis B di beberapa provinsi akhirnya pemerintah sejak 1 Maret 1997 memasukkan vaksinasi Hepatitis B dalam program imunisasi rutin.

Manfaat vaksinasi Hepatitis B akan meningkat jika pemberian vaksin pertama kali dilaksanakan secara dini, yaitu pada usia bayi 0 sampai 7 hari. Karena sebagian bayi di Indonesia lahir di luar layanan kesehatan (dukun bersalin), diperlukan koordinasi dengan dukun bersalin untuk meningkatkan cakupan vaksinasi Hepatitis B pada bayi.

Eliminasi Sebenarnya telah ada komitmen dunia untuk eliminasi hepatitis pada tahun 2015 nanti. Meski situasi di banyak negara berkembang mungkin belum memungkinkan, Indonesia harus berusaha keras untuk mewujudkan komitmen tersebut. Sebenarnya sebagian besar Hepatitis B akut akan sembuh dan hanya 5%-10% yang akan menjadi kronik. Risiko menjadi kronik jauh lebih tinggi pada penularan vertikal, bayi yang tertular dari ibunya. Karena kekerapan Hepatitis B yang tinggi, jumlah orang yang menderita Hepatitis B kronik di negeri kita diperkirakan 13 juta orang.

Penderita hepatitis kronik inilah yang perlu diobati sehingga diharapkan pengobatan dapat mencegah penyakit Hepatitis B kronik berkembang menjadi sirosis hati, gagal hati, hepatoma (kanker hati ), serta meningkatkan harapan hidup. Obat herbal fungsinya lebih pada meningkatkan kualitas hidup, tetapi sampai saat ini belum terbukti dapat mematikan virus Hepatitis B sehingga obat herbal hanya digunakan untuk terapi mengurangi gejala.

Dewasa ini telah terdapat obat antivirus Hepatitis B, seperti lamivudin, adefovir, entecavir, dan telbivudin, obat ini mampu menghambat replikasi virus Hepatitis B. Sebagian obat hepatitis B, seperti lamivudin, telah lama digunakan sebagai obat untuk infeksi HIV/AIDS.

WHO telah menunjukkan perhatian pada infeksi bersama Hepatitis B dan HIV. Obat antiretroviral yang digunakan untuk HIV dianjurkan digunakan lebih dini jika di samping HIV terdapat juga infeksi Hepatitis B. Di RS Cipto Mangunkusumo, odha pengguna narkoba suntikan di samping terinfeksi HIV biasanya sekitar 18% juga terinfeksi Hepatitis B dan 80% terinfeksi Hepatitis C. Pemerintah telah memberikan subsidi penuh pada terapi HIV/AIDS sehingga odha dapat menikmati obat antiretroviral secara cuma-cuma.

Sampai saat ini, penderita Hepatitis B jika menggunakan obat HIV yang punya potensi anti-Hepatitis B masih harus membayar dan harga obatnya cukup mahal. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan baru agar penderita Hepatitis B kronik juga dapat memperoleh obat subsidi penuh atau sekurangnya harga obat dapat dijangkau masyarakat.

Mengenai niat Anda untuk menikah tak perlu terganggu karena Hepatitis B. Calon suami Anda hendaknya mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B. Jika belum, anjurkan untuk mengikuti vaksinasi Hepatitis B. Anak yang lahir dari ibu Hepatitis B dapat dicegah agar tak tertular Hepatitis B dengan pemberian imunglobulin dan vaksinasi Hepatitis B. Karena itulah, ibu hamil dianjurkan menjalani tes Hepatitis B (dan jangan lupa juga HIV) agar jika diperlukan anak dapat dicegah tak tertular.

Saya mengucapkan selamat bekerja kepada Anda, menolong penderita dan meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Saya juga mendoakan agar tingkat kesejahteraan perawat di negeri kita akan meningkat sehingga para perawat dapat hidup layak. (Dr Samsuridjal Djauzi, kompas,Senin, 10 Januari 2011)

80 Persen Kasus Hepatitis C Tak Terdeteksi

Sekitar 80 persen kasus yang ditemukan pada penderita Hepatitis C di Indonesia tidak terdeteksi adanya gejala awal, sementara 20 persen penderita lainnya mengaku cepat lelah dan mata berwarna kuning.
    
Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Unggul Budihusodo di Jakarta, Kamis (6/11), mengatakan, seseorang diketahui menderita Hepatitis C saat ia mendonorkan darah dan ketika melakukan general check up.

"Penyakit ini tidak memunculkan tanda sama sekali dan 80 persen di antara penderitanya diketahui menderita Hepatitis C saat menjadi pendonor darah," katanya.

Berdasarkan data WHO, sekitar 7 juta orang Indonesia pernah menderita penyakit tersebut. Dari 80 persen itu kasusnya hanya 20 persen yang dapat sembuh sama sekali, tergantung dari kekebalan tubuh pasien akan penyakit itu.

Unggul menjelaskan, gejala penyakit ini dapat dikenali pada masa akut (dalam masa enam bulan), di antaranya mata kuning dan mudah lelah, tetapi jika sudah pada tahap kronis, air seni penderita biasanya berwarna coklat kental.

"Tidak ada keluhan dan gejala sama sekali saat dites pada masa akut, tetapi bisa saja ketika diperiksa ulang virus bisa ditemukan," katanya.

Hepatitis C yang telah kronis akan menyebabkan kematian meski dalam kurun waktu yang relatif lama sekitar 15-20 tahun (tahap kronik) dan dapat menyerang siapa saja, tidak terkecuali anak kecil. "Tidak ada patokan umur, siapa saja bisa terkena," ungkapnya.

Resiko tertinggi terinfeksi virus, yaitu pada pengguna jarum suntik, penerima transfusi darah, tindik, tato, juga mereka yang berhubungan intim dengan orang yang terinfeksi.

Sementara itu, untuk proses penyembuhan, penderita hepatitis C dianjurkan untuk mengonsumsi obat interferon dan genotype yang harganya mencapai Rp 2-2,5 juta.  Meski harganya mahal, kesempatan untuk sembuh total menjadi lebih besar. Hepatitis C merupakan penyakit yang disebabkan virus Hepatitis C. Infeksi virus ini dapat menyebabkan peradangan hati (Hepatitis), pada tahap kronik dapat menyebabkan sirosis hati (peradangan) dan kanker hati.(kompas,Kamis, 6 November 2008 )

Hepatitis C Ancaman Serius

Hepatitis C menjadi ancaman serius kesehatan masyarakat. Penyakit itu mudah penularannya. Terlebih lagi dengan maraknya penggunaan narkoba dengan jarum suntik

"Penyakit ini berdampak kepada kesehatan masyarakat sehinga perlu diketahui besarannya," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, Selasa (29/9) .

Pemerintah bekerja sama dengan perusahaan obat PT Roche melakukan pendataan di 21 provinsi dalam kurun waktu 1 Oktober 2007-1 Agustus 2009.Selama ini, pemerintah belum mempunyai data nasional secara menyeluruh penyakit tersebut. Data mengenai hepatitis juga belum terklasifikasi jenisnya dan parsial. Hasil dan program pendataan itu diserahkan ke Departemen Kesehatan, Selasa.

Berdasarkan pendataan awal itu, penderita Hepatitis C sebanyak 15.736 orang dengan faktor risiko paling tinggi ialah narkoba suntik sebesar 28 persen dan cuci darah 16 persen.   

Hepatitis C merupakan salah satu jenis infeksi virus pada hati yang mengakibatkan peradangan, kerusakan, pengerasan hati, kanker hingga gagal hati. Penularan virus antara lain melalui tranfusi, pemakaian jarum dan alat medis berulang, serta hubungan seksual.

Penyakit tersebut sudah menjadi masalah kesehatan global. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terdapat sekitar 170 juta orang terinfeksi HVC atau sekitar 3 persen populasi dunia.(kompas,Selasa, 29 September 2009 )

Hepatitis C Bisa Disembuhkan

Penyakit hati yang disebabkan virus hepatitis C memang berbahaya. Tapi, deteksi dini serta perkembangan terbaru dalam pengobatan hepatitis C meningkatkan kesempatan pasien untuk sembuh total.

Virus hepatitis C terutama menular akibat transfusi darah atau penggunaan narkoba suntikan. Potensi menjadi kronis sangat besar, sekitar 70-80 persen. Selanjutnya 20-30 persen akan mengalami sirosis hati dalam waktu 20-30 tahun. Sebagian dari itu akan berlanjut menjadi kanker hati.

Perjalanan penyakit ini memang mengesankan penyakit yang seram. Tapi menurut dokter Unggul Budihusodo, SpPD, dari Sub bagian Hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pasien hepatitis C bisa disembuhkan jika didiagnosis dan diobati secara dini. Apalagi perkembangan hepatitis menjadi sirosis atau pun kanker hati memerlukan waktu belasan sampai puluhan tahun.

"Bila pasien terdeteksi terinfeksi virus hepatitis C pada saat usianya masih muda dan langsung mendapatkan pengobatan, kemungkinan sembuhnya cukup besar, sampai 80 persen," kata dr Unggul dalam acara seminar Permasalahan Hepatitis C di Indonesia yang diadakan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dikatakan oleh dokter Unggul, ada beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan terapi pengobatan, yakni tipe virus, jumlah virus dalam tubuh, usia pasien, kondisi penyakit hati, kapan terapi dimulai, serta kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. "Pasien yang berusia muda umumnya lebih besar peluangnya sembuh," katanya.

Selain itu, pasien yang terinfeksi virus hepatitis C tipe 2 dan tipe 3 banyak yang berhasil sembuh total.

"Sayangnya, tipe virus yang banyak di negara kita adalah tipe 1 yang lebih bandel," ujarnya. Untuk menentukan genotipe virus, pasien diharuskan melakukan pemeriksaan darah.

Genotipe virus ini akan menentukan lamanya pengobatan yang harus dilakukan. Pasien hepatitis C dengan tipe virus 2 dan 3 hanya memerlukan pengobatan selama 6 bulan. Sedangkan pasien dengan tipe virus 1 harus melakukan pengobatan selama 12 bulan.

Para pakar penyakit hati dewasa ini merekomendasikan terapi gabungan interferon dan obat antivirus yang disebut ribavirin sebagai pilihan obat terbaik untuk hepatitis C. Obat ini disuntikkan seminggu sekali selama beberapa bulan tergantung genotipe virus.(kompas,Jumat, 23 Oktober 2009)

Sel Kulit Berpotensi Selamatkan Liver

Hasil penelitian para ilmuwan memberi harapan akan hadirnya pengobatan gangguan liver atau hati menggunakan sel kulit. Dalam percobaan di laboratorium, peneliti mampu mengubah sel kulit menjadi sel hati, suatu terobosan yang dapat menghapus keharusan transplantasi organ di masa mendatang.

Riset menggunakan hewan tikus di Shanghai Institute for Biological Sciences berhasil membuat jenis sel utama hati yang disebut hepatocyte dari sel kulit.   Dari laporan penelitian yang diterbitkan dalam  jurnal "Nature"  itu disebutkan, "ketika dicangkokkan ke tikus dengan luka di hati, sel-sel yang serupa dengan hepatocyte memenuhi liver dan mengembalikan fungsi organ tersebut".

Pakar liver Australia Profesor Geoff McCaughen mengatakan, meski teknologi sel punca pernah berhasil mencapai transisi tersebut, tetapi hasil percobaan ini menunjukkan teknik serupa berhasil pada sel kulit untuk pertama kalinya.

"Mereka tidak berfungsi sepenuhnya seperti sel liver normal, tetapi mereka mungkin 50 persen atau lebih berguna," kata McCaughen, kepala unit cangkok liver di Rumah Sakit Royal Prince Alfred, Sydney, Australia.

Liver menciptakan berbagai jenis protein, memproduksi fungsi anti-pembekuan darah, mencerna glukosa, menghilangkan racun dan mempertahankan tingkat gula darah dan energi. "Anda tidak dapat hidup tanpa sel hati yang penting itu, bernama hepatocyte, tanpa sel itu Anda akan mati -- akibat gagal liver," kata McCaughen.

Tantangan para peneliti selanjutnya adalah menguji fungsi dari sel yang "terprogram ulang" pada tikus ini guna memastikan apakah akan menyebabkan gagal liver.  "Itu merupakan tujuan utamanya bahwa mereka dapat menghentikan gagal liver seutuhnya, dan pasien tidak perlu cangkok hati atau akan meninggal," katanya.(Kompas,Kamis, 12 Mei 2011)

Ruginya Bila Hepatitis C Dibiarkan

HEPATITIS C adalah penyakit peradangan hati menular yang gejala klinis awalnya tidak tampak sehingga banyak pasien mengidap penyakit ini sudah dalam kondisi kronis. Kalaupun sudah kronis, hepatitis C sebaiknya tidak dibiarkan tanpa penanganan karena bisa menimbulkan beban ekonomi yang sangat besar.

Seperti diungkapkan Ketua Kelompok Kerja Hepatitis Departemen Kesehatan Prof Dr H Ali Sulaiman, PhD SpPD-KGEH, hepatitis C sebaiknya segera diatasi sejak dini untuk memperbesar peluang kesembuhan dan menghindari kerugian pasien. Bila dibiarkan tanpa terapi, hepatitis A dapat menimbulkan kerugian besar, mulai dari penurunan kinerja dan produktivitas penderita hingga beban ekonomi yang sangat tinggi.

"Bila dibiarkan tanpa terapi, hepatitis C dapat menurunkan kualitas hidup penderita bahkan sampai meninggal.  Penurunan kemampuan kerja juga akan membawa dampak kerugian ekonomis," ungkapnya di sela-sela  peluncuran Program Pendataan Penyakit Hepatitis C Tahap II di Jakarta, Kamis (11/10).

Di samping kualitas hidup dan menurunnya produktivitas pasien, bila penyakit yang disebabkan oleh virus itu berlanjut menjadi sirosis ringan, maka biaya pengobatan yang dibutuhkan juga tidak sedikit

Menurut Ali, bila pasien hepatitis C kemudian mengalami sirosis ringan, maka biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 30 juta per orang per tahun. Dan, bila menjadi sirosis berat tanpa transplantasi dibutuhkan sekitar Rp 60 juta per orang per tahun. "Bila sudah menjadi kanker hati yang tidak ditransplantasi butuh Rp 120 juta per orang per tahun, dan bila harus menjalani transplantasi biaya per operasi Rp 1,5 miliar sampai Rp 2 miliar dengan biaya perawatan sesudahnya Rp 150 juta per tahun," tambahnya.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Dr Unggul Budihusodo SpPD KGEH mengakui bahwa pengobatan hepatitis kronik masih sangat mahal. Namun, dengan adanya terobosan baru dalam pengobatan hepatitis C, peluang pasien  untuk sembuh semakin meningkat. Bahkan, saat ini dalam tiga bulan terapi, dokter memprediksi pencapaian kesembuhan pasien dengan memeriksa HCV RNA.

Terapi hepatitis C, kata unggul, memang memberi beban berat kepada pasien akibat mahalnya biaya terapi. "Untuk satu kali suntikan saja dibutuhkan sekitar Rp 2 juta, dan pasien harus disuntik 3 kali seminggu sekurangnya selama 6 bulan," ujarnya.

Berdasarkan estimasi WHO, saat ini sekitar tujuh juta penduduk Indonesia terinfeksi virus hepatitis C (HCV), tapi 80 persen hingga 90 persen di antaranya tidak menyadari infeksinya.

"Dari 20 yang terinfeksi virus HCV akan sembuh dengan sendirinya, dan 80 persen lainnya akan mengalami infeksi kronik. Perlu waktu puluhan tahun untuk kemudian berkembang menjadi sirosis hati atau kanker hati," tandasnya (kompas,Kamis, 11 September 2008)

Perawatan Dini Selamatkan Penderita Hepatitis C

Satu studi baru memperlihatkan bahwa pasien penderita Hepatitis C yang menerima perawatan dini dalam beberapa bulan pertama setelah terjadinya penularan menunjukkan reaksi kekebalan terhadap virus Hepatitis C (HVC).
 

Demikian kesimpulan para peneliti dari University of Montreal di Kanada yang menyiarkan hasil penelitian mereka pada Jumat, di U.S. Journal of Virology.

Dalam studi itu, para peneliti mengamati perkembangan satu kelompok pengguna obat yang gemar memasukkan obat itu dalam pembuluh darah dan berisiko tinggi terinfeksi HVC sebelum dan segera setelah terjadi pajanan terhadap HVC.

Mereka menemukan bahwa perawatan dini memulihkan reaksi kekebalan secara cepat, ditandai dengan adanya produksi secara serempak anti-virus.
  
Oleh karena itu, perawatan dini dapat memulihkan reaksi kekebalan terhadap HVC dan membantu menghilangkan virus tersebut dengan cepat. Temuan baru mengenai mekanisme penghapusan virus ini dapat memberi sumbangan bagi penatalaksanaan perawatan penderita HVC.

HVC menular melalui darah yang terinfeksi. Meskipun seperempat pasien yang terinfeksi dapat menghilangkan infeksi tersebut secara spontan, tanpa perawatan, mayoritas pasien menghadapi perkembangan infeksi yang terus-menerus, penyebab utama penyakit kronis pada jaringan hati dan kanker hati.  

Satu-satunya pengobatan yang disetujui bagi HVC ialah obat anti-virus yang dikenal sebagai "pegylated interferon alpha". Obat tersebut berhasil hanya pada separuh kasus ketika ditangani selama infeksi kronis. Angka keberhasilan rata-rata di kalangan mereka yang dirawat dini setelah penularan jauh lebih tinggi atau sebesar 90 persen.(kompas,Sabtu, 9 Agustus 2008)

Sakit Liver, Pembunuh Utama Diabetesi

Penderita diabetes beresiko 70 persen lebih banyak untuk meninggal karena penyakit liver dibandingkan pasien lain yang tidak mengidap diabetes.

Penyakit diabetes yang tidak terkontrol akan menyebabkan sejumlah komplikasi, termasuk beberapa jenis gangguan liver. Gula darah yang tidak terkontrol akan memicu parut pada liver yang disebut dengan sirosis dan juga kanker hati.

Dalam penelitian yang dilakukan tim dari Edinburgh, para ahli  menganalisa data orang berusia 35-84 tahun selama enam tahun. Mereka lalu membandingkan 1.267 pasien diabetes dengan 10.100 orang yang bukan diabetes, yang seluruhnya meninggal akibat penyakit liver.

Hasilnya ditemukan satu dari empat  (24 persen) pasien diabetesi akan meninggal akibat kanker hati, jauh lebih banyak dari yang bukan diabetesi yang hanya satu dari 10 orang (9 persen). Pada pasien kanker hati yang tidak diabetes, kebanyakan meninggal akibat penyakit liver alkoholik (63 persen).

"Saat ini makin banyak pasien penyakit perlemakan hati yang non-alkoholik, terutama orang muda yang menderita diabetes. Faktor risiko yang terbesar adalah kegemukan," kata dr.Sarah Wild dari Universitas Edinburgh.

Perlemakan hati kronis bisa diatasi dengan penurunan berat badan, olahraga, perbaikan fungsi hati, dan mengontrol gula darah serta tekanan darah. Pasien yang diabetes juga disarankan untuk menjauhi minuman beralkohol karena berpengaruh pada kadar gula darah dan meningkatkan berat badan.

Sementara itu di Indonesia, orang yang menderita diabetes lebih banyak yang mengalami komplikasi ginjal. (bbc, kompas, 31 maret 2011)